Selasa, 22 April 2008

Definisi Seni



Art is beauty made a sacrament.
Art is finite human expression made
infinite by love
.

V. McNabb

Sudah banyak seniman, pemikir dan ahli mendefinisikan seni. Definisi diatas menarik bagi saya, karena tak lazim dan mengundang perenungan.

Kalimat pertama mengaitkan seni dengan keindahan. Ini hal biasa dan mendasar. Orang awampun tahu. Tapi, kelanjutan kalimatnya yang mencengangkan.
Seni tak berhenti setelah berhasil menciptakan ’ beauty’
Seni itu ’beauty’ made a sacrament’
Keindahan seni diangkat ketaraf sakramen (sacramentum/sacra/sakral/sacred/suci). Mencipta keindahan dalam seni berarti ikut ambil bagian dalam anugerah Tuhan. Karena Tuhan pemilik keindahan sejati. Keindahan itu sendiri bagian dari kebaikan dan kebenaran. Tiga serangkai ini ini sumbernya Tuhan dan tak boleh dipisahkan. (Tentu ini tak berarti seniman harus menggarap tema keagamaan dan memasukkan unsur ajaran agama dalam setiap karyanya)

Kalimat kedua mengatakan seni itu ungkapan jiwa manusia. Bukan binatang. Binatang membangun sarang berdasar insting dan kemampuan ini telah diprogram oleh sang Pencipta dalam dirinya. Manusia beda. Ia tak semata dikendalikan insting. Ia berakalbudi dan diberi daya kreatif. Seninya merupakan ungkapan jiwanya. Manusia itu pencipta (dengan ’p’ kecil).
Seni sebagai ekspresi manusia ini harus diberi tempat selayaknya dalam hidup manusia.
Apabila dikekang, manusia akan menjadi seperti binatang. Pendidikan seni jangan dianaktirikan di SMP dan SMA, karena seni memanusiakan manusia. Daerah yang tertimpa bencana gempa dan tsunami perlu ditolong dengan makanan, minuman, pengobatan dan juga seni.
Di Aceh ada relawan yang menolong anak-anak yang trauma terhadap tsunami dengan terapi gambar, terapi tarian dan nyanyian. Seni itu ekspresi ungkapan hati manusia, bila dibungkam ia akan meledak menjadi kekerasan.

’Finite human expression’
Ekspresi seni manusia ini terbatas/fana.
Terbatas oleh bahasa, oleh cara gambar, oleh budaya, oleh kebiasaan, oleh zaman dsbnya. Coba saja amati relief Borobudur, relief itu sebenarnya berfungsi seperti komik agama Budha. Mengertikan kita bila melihat panil-panil reliefnya? Tidak. Mengapa? Karena terbatas. Corak manusianya tak seperti komik masa kini, belum lagi cara berceritanya. Itu seni rupa Borobudur. Kita belum bicara tentang aneka aliran musik, tari dan sastra.

Selanjutnya.
Seni itu terbatas. Namun bisa menjadi tak terbatas/abadi oleh ’Kasih’.
‘Art is finite human expression made
infinite by love.’
Mengapa? Kasih itu bahasa universal. Kita mungkin tak bisa bahasa perancis, tapi orang pertancis mengerti bahasa kasih.
Prinsip sederhana tapi sangat dibutuhkan seni.
Warna, gambar, bentuk, bahan, cat, tekstur yang terbatas itu menjelma menjadi tak terbatas oleh Kasih.
Bayangkan kalau desain iklan menerapkan ini.
Kalau lukisan, patung, film, desain mobil, majalah, rumah, mode menerapkan ini.

2 komentar:

jolanda atmadjaja herlambang mengatakan...

setuju banget pa rene....

aku khawatir dengan seni jadi alat tuk pembenaran diri atas nama 'kebebasan'....karena seni adalah bebas terbatas, batas yang membebaskan....
ada perenungan dan tanggung jawab tentunya...

Gema Swaratyagita mengatakan...

great opinion....penjabaran yang halus tentang seni...
ada seorang profesor yang menyatakan bahwa berkarya seni adalah sesuatu yang murni imajinatif, tanpa sedikit pun ada campur tangan ilmu. Sedangkan dr tulisan anda disebutkan juga tentang seni adalah bebas terbatas. imajinasi sebagai intuisi tertinggi yang dimiliki manusia juga mengalami metamorfosa dari pendalaman ilmu sebelumnya, jd tidak berdiri sendiri. sehingga masih ada koridor-koridor atau batasan2 dalam berkesenian dan tidak memunculkan pembenaran diri itu.