Tampilkan postingan dengan label cari ide. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cari ide. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juli 2008

Dua Layar Kaca


Pernah nonton TV atau VCD dalam bus antar kota? Lumayan juga, perjalanan panjang jadi tak terasa apalagi kalau filemnya cocok. Namun sebenarnya ada satu layar kaca lagi yang juga menghadirkan tontonan yang tak kalah menariknya, yakni jendela bus. Tentu apa yang tersaji di TV dibanding di layar jendela bus masing-masing punya kekurangan dan kelebihan tersendiri.

'Penonton' layar kaca bus tampaknya harus lebih aktif mengamati apa yang terjadi dan mempersiapkan diri sebelumnya (baca artikel sebelumnya: duduk dalam bus, mengolah batin). Beda dengan penonton TV/VCD yang relatif tinggal mengikuti jalan cerita filem ( scene, shot, plot) dan selera tontonan apa yang ingin dinikmatinya.


Rabu, 09 April 2008

Slow Toys




Anak suka bermain. Tak heran bila anak juga suka mainan. Mainan macam apa yang dimainkan anak masa kini? Mainan apa yang mendominasi pasar? Apakah mainan itu mendidik anak?
Jika pertanyaan ini diajukan kepada para pendidik, patut diduga kita akan menerima jawaban yang negatif. Banyak mainan yang tak edukatif, beresiko mencelakakan
anak, tak kreatif dan membuat anak jadi konsumtif.
Mainan jenis ini saya sebut sebagai Fast Toys(terinspirasi FastFood). Fast Toys adalah mainan instant, lazimnya dari plastik, sensasional, tak ramah lingkungan dan sering bersifat musiman seperti mainan yang popular karena filmnya juga popular. Dengan cepat mainan popular macam ini akan digantikan oleh mainan lainnya yang lebih atraktif.

Sebab itu Fast Toys menurut saya merupakan istilah yang tepat. Benar-benar tak bergizi bagi imajinasi dan mental anak (bak Fast Food tak bergizi bagi tubuh anak).

Sebaliknya, ada mainan yang saya sebut sebagai Slow Toys.
Slow Toys mungkin kurang sensasional dari segi visual, mungkin ’kampungan’,
mungkin tampak murahan, tapi nilai edukasinya amat sangat tinggi.
Slow Toys bisa dan seringkali keluar dari inspirasi anak itu sendiri. Atau bahkan anak bisa membuatnya sendiri. Slow Toys amat sangat ramah lingkungan. Selesai bermain, Slow Toys melebur kembali ke asalnya: jadi peralatan dapur, serbet, sarung , sapu dstnya.
Putri bungsu kami contohnya, mempraktekkan Slow Toys. Ia meminta omanya membuat balutan tangan dari kain. Ternyata maksudnya seperti balutan tangan orang yang patah tangan. Maka dibuatlah balutan dari kain seadanya. Kemudian setelah jadi, ia berjalan, berlari bagai anak yang sungguh-sungguh patah tangannya. Ketika ditanya darimana ia tahu balutan tangan, ia bilang ada teman sekolah yang tangannya diperlakukan demikian.
Jadi kami menyimpulkan, ketika ia sedang bermain dengan kain sebagai balutan, bermain peran, ikut merasakan bagaimana bila tangan dibalut seperti temannya.

Minggu, 10 Februari 2008

Ide Kucing : Permainan Visual, Verbal dan Vocal


Tema kucing yang sama, di tafsirkan berbeda. Lain wanita lain pria. Saya tertarik mengolah kucing dengan cara lain. Saya kurang telaten seperti istri saya menggambar bulu demi bulu. Ketidaksabaran itu rupanya dituangkan dengan sketsa-sketsa tinta putih di atas karton hitam.
Kucing-kucing saya lebih condong bermain ide visual verbal vokal. Visual kucing dimainkan dan ditarik sebebas mungkin sampai batas komunikatif/tak komunikatif. Untuk itu gaya kartun merupakan alat paling fleksibel untuk mengolahnya. Secara verbal saya juga mengolah kata "cat" dengan permainan kata: haircat(haircut), coolcat, shortcat(shortcut) dsbnya. Dengan demikian ada permainan visual kucing, dengan verbal dan dengan vokal(bunyi cat. Diharapkan dari permainan ini ada kesan kocak yang timbul. Selain itu, desain notes yang dibuat tak dapat berdiri sendiri, tetapi ia harus dilihat sebagai satu kesatuan/paket/serial.

Ide Kucing 2: Desain Grafis dan Ekspresi Diri


Kelihatan sekali perbedaan kucing yang dibuat oleh tangan istri saya dengan kucing yang saya buat. Kucing yang digambar istri saya sangat lembut karakternya, desain stationary cantik dan feminin. Sangat kentara, bahwa ini dibuat oleh seorang wanita. Ternyata desain juga dapat menampilkan ekspresi desainernya, bukan hanya fine art.

Kalau kita amati karya desainer grafis terkemuka dunia, seperti Milton Glaser, Stefan Sagmeister maka jejak ekspresi diri akan terekam pada karya desain mereka. Memang benar, dalam desain grafis bukan ekspresi yang terutama, tetapi ekspresi selalu akan menyertai karya seni.

Kamis, 07 Februari 2008

Berkarya untuk Pameran: Sinergi Idealisme, waktu, biaya dan craft

Bagi putri kami, berkarya untuk pameran itu berbeda dengan berkarya untuk kesenangan pribadi. Untuk pameran ada deadline, ada tujuan, ada pikiran bahwa karya ini bakal dilihat pengunjung pameran. Memang, Sabtu 9 Pebruari kami diundang berpameran di Flores 3 http://florestiga.blogspot.com/, pameran craft berupa art book, asesoris, jewelry dansejenisnya. Ini yang membuat putri kami tegang. Semua tangan di rumah tampak sibuk berkarya. Papa, mama, semua sibuk membuat karya. Bagi kami yang terbiasa membuat desain masalah deadline sudah biasa. Antara idealisme, waktu, biaya dan ketrampilan visualisasi harus dapat bersinergi menjadi karya desain. Putri kami memang selama ini bekerja dengan semangat seniman yang sangat bebas. "Akhirnya kami berkata, lupakan pameran, kamu berkarya saja, enjoy seperti biasa, kerjakan di mejamu" Kata-kata ini bak inspirasi bagi dia, seolah rantai terlepas, mulailah ia berkarya dengan berani. Inilah beberapa contoh karya untuk dipamerkan.