Tampilkan postingan dengan label kreativitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kreativitas. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juni 2008

Supaya Tidak Salah Paham

SMS, SURAT/TULISAN/KOMENTAR DI BLOG, bisa bikin orang lain salah paham. Penerima/pembaca bisa salah terima. Tulisan yang ditulis dengan suasana hati riang bisa dibaca orang dengan nada sinis. Di sinilah bermulanya salah paham. Mengapa? Ya, karena komunikasi tertulis berbeda dengan komunikasi tatap muka. Komunikasi tertulis telah kehilangan ekspresi wajah, nada bicara, gerak tangan dan suasana hati yang terdapat dalam komunikasi tatap muka tidak akan kita dapati dalam komunikasi tertulis. Kondisi ini akan bertambah parah bila kedua belah pihak yang berkomunikasi tak terlalu akrab bersahabat.

Contoh kongkritnya terjadi dalam budaya SMS masa kini. Beberapakali kita mungkin mesti menebak orang ini sedang marah, ketus atau tidak ramah dari SMS yang dikirimnya. Saya pernah hampir tersinggung ketika bertanya melalui SMS pada seseorang dengan ratusan kata, namun dijawab hanya dengan 2 kata. Apakah ia marah/ketus atau sedang menyepelekan saya? Selidik punya selidik ternyata ia memang hemat dalam berkata-kata. Di lain pihak, kitapun tak ingin pesan yang kita sampaikan
disalahartikan oleh orang yang membacanya disebrang sana.

Bagaimana mengatasinya? Cara ber-SMS seorang mahasiswa mungkin bisa jadi solusi.
SMS berikut dikirim oleh mahasiswa kepada dosen pembimbingnya. Hal yang menarik dalam SMS ini adalah bagaimana mahasiswa mencoba memberi tahu suasana hatinya secara verbal.
Membaca untaian kata yang ditulisnya, pembaca takkan salah interpretasi, sebab ia sudah memberi arahan dengan kata ’nada bahagia’ misalnya, atau ’sedang menari’. Cara semacam ini lucu dan menggambarkan keadaan emosi si penulis, selain itu sekaligus juga bisa menjauhkan orang dari kesalahpahaman.

Senin, 26 Mei 2008

Tentang Tantangan

ADA SATU KALIMAT YANG BERKESAN dari Profesor Primadi dalam kuliah Proses Kreasi, yaitu: ‘Kreativitas memerlukan tantangan.’ Untuk kreatif orang atau anak didik kita harus diberi cukup tantangan. Tanpa stimulasi ini, maka sulitlah mengharapkan orang jadi kreatif. Sederhana sekali. Beri tantangan yang cukup, maka manusia akan fight.

Dewasa ini ada begitu banyak buku memberi berbagai teknik dan resep untuk menjadi orang kreatif, Anda bisa melihatnya di toko buku, namun jarang ada buku yang mengajarkan ’tantangan’bisa memacu kreativits.
Suatu hari, pintu rumah kami macet. Padahal kami merasa sudah membukanya dengan prosedur yang benar.

"Mulailah kami mencoba membukanya
dengan berbagai cara. Menekan sedikit,
dengan mendorong pintu, dengan
mengangkat sedikit dan seterusnya. "

Mulailah kami berpikir kreatif, bagaimana caranya membuka pintu dengan cara inkonvensional....

Cerita pintu mungkin sepele, mari kita lihat skala lebih luas. Saat ini BBM langka, mau switch ke kompor minyak tanah juga sulit, karena minyak juga mulai
ditarik dari peredaran. Masalah ini bisa dilihat dari segi sosial, bisa pula dari sudut politis.Tapi dalam tulisan ini, kita akan melihatnya dari sudut kreativitas. Ini tantangan! Mulailah kita memutar otak kita. Otak yang selama ini dimanjakan dengan segala kemudahan: Tinggal ceklik, maka gas menyala. Pencet tombol maka message sent di layar hape. Ceklek maka menyalalah lampu. Dstnya.

Saya ikut prihatin dengan keadaan negara kita, prihatin dengan kesengsaraan orang kecil dan mengecam bila ternyata itu terjadi akibat permainan politik atau ulah kotor para koruptor. Namun dibalik semua kesengsaraan itu ada tantangan untuk kreatif. Ada orang-orang yang berhasil mengatasi problem itu dengan energi alternatif seperti gas bio, atau konon tinja sebagai ’arang’, hemat bensin dengan campuran air dan lain sebagainya.

Seakan problema ekonomi dan sosial belum cukup, kita disibukkan juga dengan problem ekologi: kehancuran bumi oleh ulah penghuninya yang semena-mena, sehingga muncul isu
global warming.
Ini tantangan kita penduduk bumi. Kita dapat mengatasinya dengan berpikir kreatif. Ingat manusia purbapun hidup didalam alam serba terbatas, belum ada teknologi canggih yang bisa ia andalkan. Jadi untuk survive, ia memakai kreativitasnya. Ia ditempa oleh tantangan.

Selasa, 12 Februari 2008

Mendesain Kartu dengan Hati


Anda berusia 81 tahun. Barangkali berarti sudah puluhan kali anda menerima kartu HUT. Butuh suatu desain kartu yang unik dan segar untuk memikat perhatian anda.
Gambar disamping adalah kartu yang dibuat oleh Maudy untuk ulang tahun omanya. Tentu dikepalanya tak ada pertimbangan desain seperti di atas .

Namun kartu yang didesainnya secara intuitif ini tampaknya memenuhi persyaratan desain tadi.

Kata "HAPPY"sudah klise, namun mendapat penekanan khusus dengan teknik pop-up.

Sebagai orang dewasa mungkin banyak pertimbangan rasional ketika mendesain, namun seorang anak lebih menggunakan pertimbangan hati dalam mendesain.

Minggu, 20 Januari 2008

Dorongan Ajaib: Kreativitas


Ada suatu dorongan ajaib yang tidak kita dapati pada mahluk lain dimuka bumi ini selain pada manusia. Dorongan ini mendesak, memanggil-manggil dan membujuk manusia.
Ia paling kentara di masa anak-anak, mungkin karena anak-anak masih polos, mereka mengikuti dorongan ajaib ini. Namun sayang sekali, dikemudian hari, dorongan ini juga dapat ditekan, diabaikan, dipadamkan secara sengaja/tidak atau secara sadar/tidak sadar oleh salah asuh atau salah urus bahkan salah didik. Dorongan ini bernama dorongan kreatif.
Banyak orang berpendapat bahwa kreatif itu milik dunia anak dan untuk orang dewasa akan tampak kekanak-kanakan. Orang dewasa sudah lebih rasional. Mungkin itulah sebabnya banyak anak bertalenta layu sebelum berkembang.
Anak dalam foto-foto di atas merupakan salah satu anak yang survive. Di tengah pendidikan sekolah yang terlalu dibebani pelajaran, ia mampu mempertahankan api kreasi di dalam dirinya.
Foto foto di atas berbicara banyak, bukan sekedar merekam aktivitas berkarya, tetapi lebih menunjukkan bagaimana ia enjoy, larut, menikmati dalam berkarya. Perhatikan ekspresi wajahnya! Baginya, kadang hasil akhir sudah tak penting, proses berkarya lebih penting. Memang kita dapat sesuatu dari karya, namun dari proses kitapun dapat belajar banyak.